Pendidikan

Contoh Roman Singkat – DosenBahasa.com

Roman dikenal sebagai satu diantara karya sastra yang berupa fiksi atau rekaan. Pada masa lalu, keberadaan roman sangat diperhitungkan dan menjadi andalan penulisan sastra termasuk juga di Indonesia. Kata roman berasal dari bahasa Perancis “romantis’ dan ungkapan Latin “lingua romana” yang bermakna karya sastra dari rakyat biasa. Definisi roman secara singkat adalah bentuk karya sastra yang menampilkan keseluruhan hidup seseorang dari lahir hingga ajalnya. beberapa juga mengenal roman sebagai kisah percintaan. Pengertian roman menurut KBBI adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing; cerita percintaan (KBBI online, 2016)

Karya sastra yang tergolong roman memiliki ciri tertentu sebagai berikut:

  • Bercerita tentang tokoh dan kehidupannya sejak lahir hingga tokoh tersebut meninggal dunia.
  • Alur cerita jelas dan meliputi keseluruhan kehidupan tokoh secara kompleks
  • Karakter tokohnya disajikan secara detail.

Roman memang ditulis untuk memberikan pandangan dengan cara menampilkan karakter dan perjalanan hidup seseorang secara utuh dan apa adanya. Roman tidak menutupi peristiwa atau permasalahan dari sang tokoh, melainkan menyajikannya dengan lebih etis dan indah termasuk kehidupan yang berkaitan dengan permasalahan sosial tokoh. Roman dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penitik beratan cerita dan penggambaran utama didalamnya antara lain:

  • Roman Percintaan (Liebesroman)
  • Roman Petualangan (Abendteuerroman)
  • Roman Pendidikan (Bildsdungsroman)
  • Roman Kriminal (Krimi-und roman)
  • Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
  • Roman Psikologi (Psychologischerroman)
  • Roman Anak dan remaja ( Kinder-un Jugendroman)

(1) Contoh Roman Singkat

Kecupan di Batu Nisan
Oleh Gayatri

Fahri, nama pemuda asal Minangkabau yang bekerja sebagai pembuat perahu cadik. Fahri hanya pemuda desa yang selalu bermimpi dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Fahri berasal dari keluarga miskin yang sederhana. Namun, Fahri sungguh pandai. Menomorsatukan pendidikan dan spiritualitasnya. Dia dikenal sebagai pemuda yang baik budi dan pandai membaca Al-Quran. Suaranya sangat indah saat menggema melantunkan ayat suci tersebut. Jikalau tidak ada pesanan perahu atau perbaikan, Fahri ikut bekerja sebagai penjaga kebun dirumah seorang saudagar kaya bernama Sultan Mahmud.

Sultan Mahmud memiliki seorang putri yang bernama Siti. Disinilah mereka bertemu dan akhirnya timbul perasaan cinta antara keduanya. Namun, Fahri mengetahui jalinan kasihnya hanya bisa diangan-angan saja. Siti adalah putri saudagar kaya yang sudah melenggang hingga keluar negeri. Tidak mungkin bisa keluarganya mengimbangi Siti. Tetapi ketika cinta sudah menjadi kuat hingga ke akarnya sepertinya Siti tidak peduli. Fahri sebagai seorang tukang kebun terkadang juga merangkap sopir dan sebagainya. Dirumah Sultan Mahmud, dirinya diterima dengan baik. Waktu pun berlalu. Hingga pada suatu pagi, Sultan Mahmud mendengar kabar tentang hubungan Fahri dengan anaknya. Sultan Mahmud meminta Fahri untuk pergi jauh dari rumahnya dan mempekerjakannya di ladang peternakan. Sultan Mahmud tidak tega mengusir Fahri karena kebaikan orang tuanya dulu. Dia hanya memindahkan Fahri ke ladang ternak sapi miliknya yang jauh dari tempatnya sekarang. Sultan Mahmud berharap dengan jarak yang jauh tersebut, Siti bisa mudah melupakan Fahri.

Hari demi hari berlalu, bulan berganti. Siti yang merasa bahwa pemindahan Fahri adalah karena keinginan ayahnya untuk memisahkan mereka tetap berniat untuk menunggu. Siti tidak pernah mengetahui bahwa setiap minggunya Fahri selalu berkirim surat. Ya, Fahri menitipkan surat pada Mbok Gimah. Namun, karena Mbok Gimah yang menaruhnya hanya di atas meja Siti, surat tersebut diketahui oleh Sultan Mahmud. Akhirnya, Mbok Gimah selalu menyampaikan surat mingguan Fahri kepada ayahanda Siti itu karena takut dipecat.

Dalam surat yang disampaikannya selama beberapa minggu, Fahri meminta jawaban Siti untuk mau menikah dengannya setelah Fahri sukses nanti. Fahri yang menunggu balasan surat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Siti, sehingga Ia jatuh sakit. Sakitnya didiagnosis oleh dokter adalah penyakit paru-paru yang sudah kronis dan membutuhkan operasi untuk membersihkan organ dalamnya. Sementara disisi lain Siti yang merasa tak kunjung mendapatkan kabar dari Fahri mulai gundah dan menganggap bahwa Fahri hanya mempermainkan dirinya. Sultan Mahmud ayahnya, juga telah berniat untuk menikahkan Siti dengan pengusaha batu bara yang kaya raya. Masih muda, Raffi nama pengusaha itu. Siti pun tak bisa menolak karena itu keinginan ayahnya. Siti mencoba memberi kabar kepada Fahri dengan berkirim surat ke rumah orang tua Fahri. Namun, tanpa diketahui oleh Siti, kedua orang tua Fahri sudah terlebih dulu pindah ke tempat lain untuk merawat Fahri yang saat itu memang tengah sakit-sakitan. Siti pun menganggap semuanya sia-sia saja.
Pada akhirnya Siti menerima pinangan Raffi dan menyetujui perjodohan tersebut.

Hari yang dilalui Fahri sungguh memilukan. Beberapa kali dirinya mengalami sakit dibagian dada, Fahri hanya menahan sakitnya sambil sesekali menyebut nama Siti. Fahri hanya ingin bertemu dengan Siti untuk terakhir kalinya. Ia ingin bertanya alasan Siti tak sudi menjawab semua surat yang dikirimkannya setiap minggu. Hingga pada suatu pagi, Mbok Gimah yang merasa kasihan pada Fahri dan Siti menemui Fahri sesaat menjelang ajalnya. Mbok Gimah menceritakan bagaimana surat tersebut tidak pernah sampai ke tangan Siti. Mbok Gimah meminta maaf dan berjanji akan mengakui semuanya meski sudah terlambat.

Fahri yang mendengar kabar tersebut sangat kecewa. Hanya karena harta mereka dipisahkan sampai hayat. Fahri memaafkan Mbok Gimah dengan satu syarat yaitu menyampaikan pesan terakhir Fahri dalam sebuah surat. Surat tersebut ditulis Fahri, bahkan sesaat sebelum mengakhiri tulisannya Fahri mengeluarkan batuk disertai darah yang sedikit tumpah pada kertas yang berisi tulisannya. Sesaat kemudian Fahri menghembuskan napas terakhir disamping kedua orang tuanya dan Mbok Gimah.

Sepanjang perjalanan Mbok Gimah dihantui perasaan bersalah dan menyesal. Apalagi Fahri berpesan untuk menyampaikan surat itu saat anak dalam kandungan Siti lahir. Ya, Siti mengandung anak dari Rafii, suaminya yang dijodohkan oleh ayahnya. Meskipun Raffi termasuk orang yang pemarah dan memiliki akhlak yang buruk, Siti tetap menghormatinya sebagai suami apalagi dengan anak yang dikandungannya. Siti hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik.

Enam bulan pun berlalu. Tepat disaat subuh menggema di beberapa masjid, Siti melahirkan bayi pertamanya yang diberi nama Azzam. Seketika itu pula, Mbok Gimah yang tengah merawat Siti berniat untuk memberitahukan pesan terakhir dari Fahri. Namun, karena kondisi Siti yang masih lemah Mbok Gimah mengurungkan niatnya itu.

Pada suatu hari saat Mbok Gimah tengah asik menyuapi Azzam, Siti tidak sengaja masuk ke kamar Mbok Gimah dan melihat surat yang memang tengah dibawa di genggaman Mbok Gimah. Surat itu rencananya akan diberikan mengingat kondisi Siti yang sudah pulih. Mbok Gimah meminta maaf pada Siti, tidak ada yang bisa Siti lakukan selain meratapi surat terakhir dari Fahri tersebut. Siti nekat pergi ke makam orang yang paling dicintainya itu. Sang ayah, Sultan Mahmud tidak bisa mencegah keinginan anaknya karena dia pun tahu Fahri sudah tiada.

Sesampainya di batu nisan makam Fahri Siti bahkan ingin mengakhiri hidupnya dengan membenturkan kepalanya hingga berdarah-darah. Niat tersebut kemudian dihalangi oleh Raffi yang menyusulnya ke makam. Raffi yang berjanji ingin berubah sejak kelahiran anak mereka juga mengungkapkan permohonan maaf diatas nisan Fahri. Kesadaran Siti kembali seusai membaca ulang surat digenggamannya. Di pesan terakhir Fahri meminta Siti untuk hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Siti tidak diperbolehkan bersedih demi kisah mereka. Akhirnya, Siti pun hanya bisa mengecup nisan Fahri untuk yang terakhir dan berjanji akan memenuhi keinginan Fahri untuk bahagia dengan suami dan anaknya saat ini.

TAMAT.

(2) Contoh Roman Singkat II

Pergumulan Dua Akhlak
Oleh Gayatri

Ayahnya memberi nama Fadli. Pemuda yang tumbuh menjadi anak yang pandai mengaji dan hampir tidak pernah keluar rumah. Ya, Fadli adalah anak satu-satunya dari keluarga Seno Soedarman. Seorang pemilik perkebunan sawit di Kalimantan bagian Tengah. Namanya tersohor sebagai seorang pengusaha kaya yang sukses, baik dalam membina usahanya, maupun keluarganya. Pak Seno, begitu Ia akrab disapa. Tidak ingin anak semata wayangnya terjerumus pada kehidupan masa remaja yang salah. Dari kecil Fadli dididik menjadi pemuda soleh yang selalu patuh pada orang tuanya. Tidak hanya itu, Fadli bahkan lebih memilih untuk mondok disebuah pesantren sambil tetap bersekolah. Cita-citanya sederhana, menjadi guru agama.

Suatu hari kedua orang tua Fadli menyiapkan acara syukuran untuk menyambut Fadli yang sudah lulus kuliah di pesantren dan berencana untuk mengajar di salah satu pondok di desanya. Fadli yang datang dengan raut bahagia memeluk kedua orang tuanya tanda rindu yang selama ini Ia pendam. Akhirnya, keluarga kecil tersebut dapat bersatu kembali. Kali ini Fadli berjanji untuk membahagiakan dan meneruskan usaha orang tuanya.

Fadli memang pemuda yang pandai. Namun, dirinya tidak menyadari bahwa kepandaian juga diukur dari tingkat pengalaman terhadap lingkungan. Lingkungan di pesantren yang sangat dijaga, jauh berbeda dengan lingkungannya sekarang yang serba bebas dan terbuka. Beberapa kawan seangkatan Fadli bahkan sudah banyak yang terjerumus pada pergaulan bebas. Fadli yang lugu dan polos tidak mengerti bahwa ancaman akhlak bisa datang dari mana saja.

Menikmati waktu mengajarnya, Fadli mulai mengenal lawan jenis yang berbeda dengan masa-masa dia di pesantren. Perempuan di tempatnya mengajar sudah berbeda dari penampilan dan cara berkomunikasi. Fadli sempat heran dengan kenyataan disana bahwa tidak semua perempuan menutupi auratnya meski seorang muslim.

Fadli mulai melihat fakta bahwa kehidupan yang bebas sepertinya lebih membahagiakan bagi mereka yang menjalaninya. Suatu ketika Fadli bertemu dengan teman masa kecilnya dulu. Sifa namanya. Sifa adalah seorang pegawai bank yang baru saja tamat kuliah. Berbeda dengan Fadli, Sifa lebih terlihat supel dan mudah bergaul meskipun dengan lawan jenis. Fadli melihat Sifa dari cara pandang yang sudah tidak seperti dulu lagi. Fadli jatuh hati pada teman masa kecilnya itu.

Sedikit demi sedikit keduanya pun dekat dan memutuskan untuk menjalin hubungan. Fadli bahkan ingin segera menjadikan Sifa sebagai istri karena menurut Islam hal tersebut jauh lebih baik dari pada lama-lama berpacaran. Fadli melamar Sifa pada suatu malam yang sudah Ia persiapkan dengan berbagai hidangan makan malam di sebuah rumah makan. Sifa yang melihat Fadli dengan kasihan akhirnya memutuskan untuk menerima pinangan itu meski dirinya telah memiliki seorang kekasih. Fadli tidak mengetahui jikalau Sifa dan Sultan sudah berpacaran jauh sebelum Fadli kembali dari pesantren. Hanya saja Sifa menunggu saat untuk Sultan kembali dari tugasnya di kapal pesiar. Sementara Sifa dengan keresahannya. Fadli justru tengah berbahagia menyiapkan hari pernikahannya.

Hari berganti hari dan tibalah saatnya esok adalah hari pernikahan keduanya. Tinggal beberapa jam saja, Sifa akan sah menjadi menantu pengusaha perkebunan terkaya. Namun, kenyataan pahit justru diterima Fadli dan keluarganya. Tanpa diduga malam sebelum pernikahan berlangsung, Fadli mendapat kabar bahwa Sifa memutuskan untuk membatalkan pernikahan tersebut secara sepihak. Yang lebih menyakitkan bagi Fadli adalah berita kaburnya Sifa dengan pemuda kapal pesiar yang belakangan diketahui sebagai kekasih Sifa.

Terjadi perubahan yang cukup besar dalam diri Fadli. Dirinya mulai sering marah-marah dan berkata kasar pada orang tuanya. Tidak hanya itu, Fadli bahkan berani membantah omongan Ayahnya yang dulu tidak pernah dia lakukan. Semua itu kemungkinan besar berasal dari peristiwa gagalnya pernikahan dengan wanita yang dicintainya. Sifa sudah tidak lagi berkabar dan menghilang entah kemana, keluarganya pun tidak tahu kemana putri sulung mereka pergi.

Fadli mulai bergaul dengan beberapa preman bahkan ikut serta jika ada acara minum-minum di balai dusun. Kedua orang tuanya tidak berani memarahi Fadli karena takut dipukul seperti beberapa hari sebelumnya. Fadli bahkan mulai berani mengajak gadis-gadis yang bekerja di karaoke kerumahnya. Kedua orang tua Fadli terpaksa tega mengusirnya karena tidak tahan melihat prilaku putranya itu. Fadli semakin beringas dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya tanpa mengakui lagi Pak Seno sebagai ayah kandungnya.

Hidup Fadli terlunta di luar sana. Dirinya hanya mengandalkan uang dari hasil memeras beberapa pedagang di pasar tempatnya sering berkumpul bersama teman-teman premannya. Fadli bahkan sering terlihat tidur di kolong meja dimana meja tersebut digunakan untuk berjualan pada keesokan harinya. Beberapa pedagang yang tidak menyukainya melaporkan pemerasan yang dilakukan oleh kelompok Fadli agar mereka jera. Fadli dicari oleh petugas kepolisian yang menangani kasus preman di pasar-pasar tradisional.

Sampai pada suatu pagi Fadli kepergok sedang memeras pedagang sayur di sebuah gang sempit dekat pasar. Petugas yang mengetahui tindakan tersebut segera mengejar Fadli. Fadli berlari dengan kencangnya hingga tanpa disadari dia menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri. Sebuah truk bermuatan karung beras menabrak Fadli yang seketika meninggal di lokasi. Petugas yang menangani kasus tersebut mengabarkan kepada Pak Seno beserta istrinya. Betapa terpukul hati kedua orang tuanya saat tahu kondisi Fadli. Namun, mereka dengan ikhlas memaafkan sopir truk tanpa menuntut apapun, ikhlas memaafkan anak mereka Fadli.

Fadli hanya salah menyikapi kenyataan. Pergaulan yang diperolehnya dulu di pesantren hanya dijadikan sebagai tontonan dan bukan sebagai perbaikan iman. Fadli seolah merasa merana seorang diri. Dirinya tidak menyadari bahwa kesedihan yang dialaminya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luasnya lautan.

TAMAT.

Demikianlah contoh roman singkat, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| |
Back to top button